|
|
 |
Wednesday, November 15, 2006
TOWARDS ACCESSIBLE TOURISM THROUGH CREATING ACCESIBLE SIGNAGE
abstract for International Seminar Transed 2004 : The 10th International Conference on Mobility and Transport for Elderly and Disabled People, May 2004, Hamamatsu, Japan
TOWARDS ACCESSIBLE TOURISM THROUGH CREATING ACCESIBLE SIGNAGE
CASE STUDY : "JOGJA JERON BETENG KRATON", YOGYAKARTA-INDONESIA
Harry Kurniawan, Bachelor of Architecture1, Ikaputra, Ph.D.2
1) Researcher Assistant of Center for Universal Design and Diffability (CUDD), Dept. of Architecture, GMU, Yogya
2) Chairman of Center for Universal Design and Diffability (CUDD), Dept. of Architecture, GMU, Yogya
SUMMARY
Every body needs information and every body has the some chance to get the information. Even, there are some different between one with another on the way to get the information but it's not crucial because basically it's same Eusing your eyes, using your heard, or using other senses' abilities.
Information is the key to understand environments, the key to make a communication, the key to keep the life going on. In Tourism, information becomes an important aspect to build tourists curiosity. Tourism information can be share by two ways that are active or passive way. If active way must be hanging on the human ability (in this case is tourism guide), so passive way can be handle by create signage.
Signage has many added point, such as it can be stand by to share the information all the time, but to be a good one, it must be able to be used by any body with any possibility ways of using. Therefore universal design is a suitable concept to implement on the signage. In this project, one of user that can use the signage is blind persons. Creating an information signage for the blind is how the signage can optimizing other blinds' senses' abilities Ein this case is touching sensibility - with "tactile communication" methods.
KEYWORDS :
Information, signage, tourism, accessibility, tactile, Jeron Beteng, Yogyakarta
please email for the full paper(PDF).
Posted at 04:25 pm by harry98
Permalink
Grand Palace Bangkok: Jantung Kota Malaikat
Kompas, 2 November 2005
Rubrik Perjalanan
Grand Palace Bangkok: Jantung Kota Malaikat
Krung Thep Mahanakhon Bowon Rattanakosin Mahinthrayutthaya Mahadilokphop Noppharat Ratchathani Burirom Udom Ratchaniwet Mahasathan Amon Phiman Awatan Sathit Sakkathatiya Witsanukam Prasit adalah nama yang diberikan oleh King Rama I untuk ibukota kerajaannya ini. Nama kota Bangkok tersebut saat ini, lebih dikenal dengan nama singkat Krung Thep atau Kota Malaikat.
Satu dari kota-kota metropolis di Asia Tenggara ini tidak jauh berbeda dengan kota-kota besar lainnya seperti Jakarta ataupun Kuala Lumpur. Jalan dipadati oleh berbagai jenis kendaraan yang berjalan lambat, jalur pedestrian penuh oleh pedagang kaki lima, maupun lalu lalang manusia yang berlomba dengan waktu. Bahkan cuaca siang itu pun terasa tidak jauh berbeda dengan panasnya udara kota Yogyakarta-kota awal perjalanan kami dimulai.
Siang itu jam menunjukkan pukul 12.00 waktu Thailand. Udara memang terasa panas sejak kami turun dari perahu wisata sungai Chao Phraya di dermaga Tha Tien Pier. Ya, dermaga ini merupakan salah satu akses yang tersedia bagi wisatawan menuju tujuan kunjungan kami berikutnya, Komplek Grand Palace (Komplek Istana Kerajaan).
Komplek Grand Palace
Komplek Grand Palace berada di wilayah Ko Rattanakosin, sebuah wilayah dimana kota kuno pertama kali dibangun; sejarah dan budaya Thailand terkumpul dan berkembang seperti saat ini, dimana jantung kota Bangkok berdenyut, dimana jantung kota malaikat berada, demikian buku panduan What Pho memberikan gambaran keberadaan Komplek Grand Palace kepada kami.
Atap-atap berukuran besar khas Thailand serta ujung-ujung dari pagoda terlihat di balik kokohnya tembok putih setinggi lebih kurang 5 meter yang mengelilingi Komplek Grand Palace. Sejak awal rencana keberangkatan ke Bangkok, kunjungan ke Grand Palace menempati prioritas utama kami, dan tidaklah salah, karena Grand Palace adalah simbol negara Thailand dan salah satu museum terlengkap untuk melihat arsitektur Thailand serta alkulturasinya dengan barat dan negara asia lainnya.
Komplek Grand Palace yang dikelilingi tembok putih sepanjang 1900 meter, mengingatkan kembali pada Kraton Yogyakarta maupun Surakarta yang juga memusatkan aktivitasnya di area dalam tembok benteng (njeron beteng). Grand Palace didirikan tahun 1782 pada Periode Rattanakosin (atau Periode Bangkok) oleh King Taksin sebagai ibukota ke tiga setelah Ayutthaya dihancukan oleh Burma pada tahun 1767, dan Thonburi di sisi kanan sungai Chao Phraya tidak lagi digunakan sebagai ibukota (Dumarcay, 1991).
Kompleks ini berada di atas 218.000 meter persegi lahan Pulau Rattanakosin yang dikelilingi kanal-kanal, dan dibangun dengan mengikuti lay out tradisional kompleks istana di Ayutthaya, salah satunya terlihat pada arah hadap Grand Palace ke utara dengan sungai Chao Phraya mengalir di sisi kirinya.
Waktu dua hingga tiga jam paling tidak harus disediakan untuk melihat keseluruhan bangunan di komplek ini, meskipun sebenarnya waktu yang lebih lama harus diluangkan untuk menikmati detil-detil ukiran maupun lukisan yang menghiasi hampir seluruh bagian bangunan di komplek ini.
Siang itu matahari bersinar terik, ukiran-ukiran berwarna kuning keemasan dan detil-detil kaca yang memantulkan sempurna sinar tersebut agak menyulitkan untuk melihat setiap detail dengan baik, namun mengenali perpaduan antara beberapa budaya yang berinteraksi di tahiland tidaklah terlalu sulit. Lihat saja keberadaan patung batu Lan Than Nai Tvarapala -raksasa Cina yang memegang senjata dan patung-patung batu khas china lainnya, serta kolom-kolom klasik Yunani dan Romawi, berpadu menjadi satu dengan arsitektur Thailand, baik sebagai bagian dari satu bangunan maupun yang berdiri utuh sebagai bangunan berasitektur non-Thailand.
Dengan 200bath, paket kunjungan ini menjelajahi tiga lokasi yaitu Wat Phra Kaew, Grand Palace dan Galeri. Komplek ini terdiri dari tiga lapis yang masing-masingnya dikelilingi tembok. Lapisan paling dalam adalah tempat tinggal keluarga kerajaan dan kantor-kantor terpenting kerajaan; lapisan luar terdiri dari hall kerajaan, area penerima, dan bangunan-bangunan pemerintah untuk menyelenggarakan upacara-upacara penting dan bisnis-bisnis pemerintah; sedangkan area terluar adalah tempat dimana royal temple (kuil kerajaan) Wat Phra Kaew berada.

Wat Phra Kaew
Wat Phra Kaew dikenal juga dengan nama Wat Phra Sri Rattanasatdaram atau Emerald Buddha Temple. Nama Emerald Budha Temple diberikan karena kuil ini adalah rumah bagi patung Emerald Budhaimage Budha yang paling dihormati di Thailand. Patung Budha dalam posisi duduk bersila setinggi lebih kurang 40 cm ini dibuat dari batu jade hijau. Kerajaan memiliki tiga pantung Emerald Budha yang diletakkan di kuil bergantian dalam satu tahun. Siang itu patung Emerald Budha musim panas berada di altar kuil, sedangkan patung Emerald Budha musim hujan dan musim dingin tersimpan dan dapat kita lihat dari dekat di dalam galeri kerajaan yang juga menyimpan koin-koin dan perhiasan-perhiasan kerajaan lainnya.
 
Wat phra Kaew, berada di area Phra Ratchathan Chan Nok, area terluar di sisi utara dari Komplek Grand Palace ini dan menjadi pemandangan pertama yang berkesan ketika pertama kali kami melewati Visechaisri (gerbang masuk wisatawan) untuk menuju Komplek Grand Palace. Berhenti sebentar dan luangkan waktu untuk mengabadikan kehadiran kita sebagai latar depan komplek Wat Pra Kaew ini.
Kuil ini menjadi bagian dari Komplek Grand Palace sejak pertama King Rama I mendirikan Komplek Grand Palace di tahun 1782. Komplek Wat Phra Kaew seluas 945 meter persegi ini mempertahankan gaya tradisional bangunan kerajaan Thailand dengan warna emasnya pada kayu-kayu yang diukir, dan bangunan ini menjadi salah satu yang dapat menggambarkan lebih dari 200 tahun perjalanan sejarah kerajaan Thailand dan eksperimen-eksperimen arsitektural yang pernah ada. Emerald Budha Temple tetap berfungsi sebagai tempat suci bagi masyarakat Budha di Thailand, namun secara khusus juga memiliki arti yang sangat penting bagi kerajaan, seperti yang diilustrasikan dalam film Anna and The King, bagaimana Raja Mongkut (Rama IV) diperankan oleh Chow Yun-Fat bersujud dan berdoa di depan altar tinggi patung budha bewarna hijau Emerald Budha. Keistimewaan kuil ini sebagai kapel pribadi milik kerajaan ditandai dengan keunikannya sebagai satu-satunya kuil yang tidak memiliki kediaman untuk dihuni oleh biksu-biksu di dalamnya.
Perjalanan melihat Komplek Grand Palace ini benar-benar memperkaya wawasan akan sejarah dan budaya Thailand sehingga jika tidak banyak waktu yang kita miliki di negeri Thailand, maka mengunjungi Komplek Grand Palace adalah tujuan yang pertama kali harus terfikirkan.
Harry Kurniawan
Mahasiswa Pasca Sarjana Teknik Arsitektur UGM
Staf Center for Universal Design and Diffability (CUDD) UGM
Posted at 04:14 pm by harry98
Permalink
Tuesday, May 17, 2005
Ketika Tunanetra Memilih Bepergian Sendiri
kompas, minggu, 15 Mei 2005
Ketika Tunanetra Memilih Bepergian Sendiri
Oleh Harry Kurniawan
SEMUA manusia dilahirkan "sama" dan memiliki hak sama pula menjalankan dan menikmati hidup. Dalam kehidupan nyata yang dinamis, pemenuhan hak tersebut menyebabkan setiap orang tanpa terkecuali membutuhkan informasi dari dan tentang lingkungannya untuk melakukan aktivitasnya dengan baik.
INFORMASI lingkungan diartikan Passini (1984) sebagai semua informasi penting meliputi komponen deskriptif, lokasional, dan waktu, yang memungkinkan seseorang menyelesaikan tugas pencarian jalan. Namun, informasi lingkungan ini akan bermanfaat jika ia bisa dimengerti, diorganisasi, dan diingat. Untuk mencapai ketiga syarat tersebut, media penyampai informasi menjadi alat sangat penting.
Bentuk media penyampai informasi pada fasilitas publik cukup mudah kita temukan keberadaannya dan variasinya. Namun, rasanya sulit menemukan media penyampai informasi yang benar-benar tidak mendiskriminasi.
Pengembangan media penyampai informasi yang mampu diakses oleh kaum difabel inilah yang harus menjadi fokus perhatian di Indonesia. Dari sekian macam ke-tuna-an, tunanetra adalah kelompok yang tidak mengandalkan indra visual sebagai alat pengumpul informasi, padahal indra visual pada orang "normal", menurut Setyo Adi Purwanto (Setiawan, 2002), berkontribusi menyampaikan 85 persen informasi.
Passini (1984) menunjukkan, seseorang berada pada koridor yang ditentukan karena dia menemukan tujuannya (informasi sensorik) dan mengetahui tujuannya ada pada koridor itu (informasi memori). Pada tunanetra, dua proses yang dilakukan adalah mengganti informasi visual dengan informasi nonvisual dan mengorganisasi informasi tersebut secara teratur.
Ada tiga media penyampai informasi pasif bagi tunanetra yang mampu membantu kedua proses tersebut, yaitu denah timbul, penanda timbul, dan ubin pemandu-peringatan. Ketiga media pasif tersebut menempatkan sensitivitas indra peraba tunanetra sebagai dasar pembuatannya.
Media pertama yang penting dalam bangunan maupun lingkungan binaan adalah keberadaan ubin pemandu-peringatan, yang terdiri dari dua macam tekstur, yaitu garis dan titik, tetapi memiliki peran sangat mendasar bagi aktivitas tunanetra.
Bagi tunanetra, aspek paling mudah dari memosisikan tubuh dan bergerak, seperti menghadap ke arah tertentu atau berjalan lurus, menjadi tugas sulit untuk dilakukan. Media ini menjadi alat tepat untuk menutupi kelemahan tunanetra melalui kemampuannya memberi kejelasan arah dan informasi elemen ruang lingkungan sekitarnya.
Informasi mengenai arah dan jalur yang aman untuk mereka tempuh disampaikan oleh ubin pengarah. Sementara ubin peringatan memberi informasi lain, seperti keberadaan fasilitas yang mampu diakses, misalnya telepon umum, lampu penyeberangan, dan lift; keadaan yang membutuhkan kehati-hatian yang lebih, seperti perbedaan ketinggian; titik yang menunjukkan akhir jalan atau persimpangan; dan lain sebagainya.
Di Indonesia, contoh penerapan di antaranya dapat ditemukan di jalur pedestrian Jalan Mangkubumi-Malioboro Yogyakarta, Pasar Gedhe Solo, dan Masjid Istiqlal Jakarta.
Ubin pengarah juga memiliki manfaat lain, seperti warna kuning pada ubin dipilih agar dapat diidentifikasi dan dimanfaatkan masyarakat low vision dan buta warna, serta juga sangat bermanfaat bagi orang tua sebagai penanda area aman.
MEDIA kedua yang sangat bermanfaat dalam proses pengumpulan informasi bagi tunanetra adalah denah timbul. Denah timbul pada skala urban dan kota bisa memfasilitasi pemahaman spasial dan membantu dalam proses menemukan jalan (wayfinding) dengan sangat baik.
Denah timbul pada prinsipnya sama dengan peta "Anda di sini" dan peta wayfinding bagi masyarakat umum yang biasanya merepresentasikan pergerakan dan lokasi. Elemen yang membedakan antara denah timbul dan peta biasa adalah kelengkapan informasi dalam fitur yang dapat diraba.
Informasi standar dalam bentuk fitur timbul dapat berisikan kata-kata dalam huruf braille, simbol, serta bisa juga dilengkapi informasi keberadaan ubin pengarah-peringatan yang tersedia pada bangunan atau lingkungan binaan. Denah timbul ini memang belum populer di Indonesia, tetapi sebagai media awal penyampai informasi bangunan atau lingkungan secara menyeluruh, dia menjadi sangat berguna bagi mobilitas tunanetra.
MEDIA ketiga yang berperan dalam skala paling kecil adalah penanda timbul. Salah satu contoh yang dapat kita temukan di Indonesia adalah yang terdapat pada pegangan tangga di Stasiun Gambir yang berfungsi memberi informasi ruang yang ada di lantai di atas atau di bawahnya.
Penanda timbul bisa juga terpasang pada halte untuk memberikan informasi nomor, tujuan, dan jadwal kedatangan bus; terpasang pada pintu atau dinding ruangan yang memberi informasi nama atau fungsi ruang; dan juga bisa berdiri sendiri untuk memberi informasi tertentu. Contohnya, pemasangan tanda oleh Jogja Heritage Society pada rumah cagar budaya di kawasan Njeron Beteng Keraton Yogyakarta yang berisi informasi mengenai sejarah rumah yang dilengkapi dengan huruf braille dan denah timbul rumah tersebut.
Contoh dan petunjuk perencanaan dan perancangan media penyampai informasi yang aksesibel bagi semua orang sebenarnya dapat ditemukan dengan sangat mudah sehingga yang dibutuhkan saat ini adalah keinginan kuat dari semua pihak untuk menerjemahkan penghargaan persamaan hak tersebut ke dalam wujud nyata. Salah satu pemahaman yang harus ditanamkan dalam usaha menciptakan fasilitas yang aksesibel adalah ini bukan kegiatan sia-sia, melainkan (mengutip Ikaputra, 2002) perwujudan cara berpikir desain universal di mana "jika desain bekerja baik bagi orang yang memiliki kemampuan berbeda (difabel), maka ia akan bekerja lebih baik bagi semua orang".
Harry Kurniawan Mahasiswa Program S2 Arsitektur UGM, Staf Center for Universal Design & 'Diffability' (CUDD) Arsitektur UGM
Posted at 01:55 pm by harry98
Permalink
Monday, March 28, 2005
artikel pada Kombas minggu, 27 Maret 2005
Arsitektur "Koban":
Respon Tugas Profesi Dan Tanggung Jawab Sosial
Barangkali kalau tulisan koban tidak terpasang di dindingnya, penulis tidak akan pernah menyadari bahwa bangunan 1 x 2 m itu adalah pos polisi.
Kita rasanya tidak salah jika memilih Jepang sebagai salah satu kiblat dalam membangun dan merencanakan pembangunan negara kita. Jepang sebagai negara asia yang maju mampu memadukan aspek teknologi dan budaya timur dalam kehidupan masyarakat dan negaranya, contohnya meskipun pola hidup masyarakatnya adalah pekerja keras dan memiliki disiplin terhadap waktu yang sangat tinggi, ternyata tidak mematikan keramahan mereka dalam memberikan bantuan kepada orang lain terutama orang asing. Salah satu elemen yang memainkan fungsi ini adalah polisi.
Polisi Jepang sangat mengerti tugas mereka sebagai elemen Negara dan masyarakat yang harus mampu mengayomi, melindungi dan melayani masyarakatnya. Polisi Jepang dituntut untuk mampu menjalankan tugas-tugasnya tersebut dengan seimbang tanpa memunculkan rasa takut pada masyarakat serta di sisi yang lain langkah-langkah keamanan dan interaksi dengan masyarakat yang dilakukan polisi juga tidak terkesan kaku. Dua tuntutan tersebut diatasi melalui dukungan koban-koban (pos-pos polisi) yang didesain untuk mampu mengikutsertakan masyarakatnya; ... mampu membantu tumbuh dan berkembangnya kesefahaman serta bisa dimengerti (Rowe, 1987) oleh lingkungan sekitarnya.
KARYA ARSITEKTUR
Koban bersama dengan chuzaishos menempati bagian terbawah dari struktur organisasi kepolisian Jepang dan merupakan bagian yang langsung berhubungan dengan masyarakat dan kehidupannya. Keduanya dalam bahasa Jepang berarti pos polisi, namun keduanya berbeda dalam wilayah kerjanya, dimana chuzaishos berada pada kawasan pedesaan sedangkan letak koban adalah di daerah perkotaan.
Data menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Jepang tinggal di kota bahkan menurut data yang dikeluarkan PBB populasi penduduk perkotaan di Jepang tahun 1995 adalah 77,5%. Angka tersebut menunjukkan bahwa koban memiliki tanggung jawab yang lebih besar dari chuzaishos, sebagai perbandingan, dengan wilayah hukum chuzaishos mencapai 18 mil persegi ia hanya melayani 3000 orang, sedangkan koban dengan wilayah hukum hanya 0.22 mil persegi harus melayani 8500 orang. Besarnya populasi yang harus dilayani menyebabkan jumlah koban yang harus tersedia cukup besar dan untuk Jepang secara keseluruhan lebih kurang terdapat 6.600 koban.
Koban sengaja diciptakan untuk menjadi bagian dari pengamanan lingkungan sehingga petugas koban memiliki dua tugas sekaligus yaitu sebagai polisi yang memberikan rasa aman kepada lingkungannya serta sebagai penunjuk arah dan konselor bagi masyarakat. Dua tugas terkahir ini berhasil menghilangkan jarak yang kaku antara masyarakat dan polisi sehingga petugas koban (polisi) lebih sering dipandang sebagai saudara tua, dan nampaknya desain-desain koban yang menarik dan bervariasi juga menjadi bagian dari usaha tersebut.
Ada dua hal yang membuat keberadaan koban memiliki nilai dan makna yang tinggi yaitu letak dan arsitekturnya. Jika ditinjau dari letaknya, koban dengan sangat mudah dapat ditemukan di sudut-sudut sebuah kawasan atau persimpangan jalan. Kevin Lynch dalam bukunya The Image of The City (1960) mengistilahkan sudut-sudut persimpangan jalan tersebut sebagai nodes, dan didefinisikan sebagai titik pertemuan yang strategis di mana kedalamnya orang bisa masuk. Nodes memiliki peran yang penting bagi orang-orang di kota disebabkan beberapa kebiasaan yang dilakukan didalamnya, antara lain karena biasanya keputusan harus dibuat di persimpangan jalan, orang meningkatkan perhatian mereka dan mengenali elemen-elemen terdekatnya dengan lebih jelas (Lynch, 1960) di titik ini. Koban yang berada di titik ini (nodes) tidak hanya memiliki nilai yang tinggi karena letaknya namun juga karena ia juga bisa berperan sebagai landmark lokal sebuah kawasan, dan peran ini yang dimainkan oleh beberapa koban melalui desainnya yang menarik.
Desain-desain koban yang menghasilkan arsitektur yang menarik menjadi nilai tambah tersendiri bagi keberadaanya di sebuah lingkungan, paling tidak dua koban berikut ini dapat memberikan gambaran bagaimana arsitektur bukan hanya sebagai artefak tetapi juga alat komunikasi sosial koban dan lingkungannya serta polisi dengan masyarakat daerah itu.
Koban pertama yang berdiri tepat di depan gedung San-ai Dream Center, Ginza, Tokyo ini memberikan gambaran yang sangat unik tentang sebuah pos polisi. Pos polisi munggil ini didesain dengan bentuk yang sangat sederhana dengan material kaca cermin sebagai kulitnya. Pemilihan kaca cermin tidak lepas dari bangunan-bangunan disekitarnya yang menggunakan kaca sebagai elemen penting, sehingga koban ini tidak tampil mencolok bahkan mampu merefleksikan lingkungan serta menyatu kedalamnya. Figur polisi sebagai individu maupun institusi yang tegas, dan berwibawa dimunculkan melalui tampilan yang sangat kontras, seperti munculnya ikon katak hijau besar pada bagian atas dari koban ini yang tentu saja menjadi sangat terlihat karena bertolakbelakang dengan warna hitam bangunan.
Koban Sukiyabashi menjadi salah satu yang paling dikenal masyarakat Tokyo, Jepang serta wisatawan mancanegara. Koban ini letaknya tidak terlalu jauh dari pos polisi yang pertama, didesain oleh Kazumasa Yamashita pada tahun 1982 dan memiliki dimensi bangunan yang cukup besar yaitu 53m2. Pos polisi ini berada di sudut jalan yang sangat startegis antara lain karena berada pada sudut simpang empat dari jalan utama Ginza, tepat berada di samping pintu masuk Stasiun Ginza, serta di kelilingi pertokoan dan perkantoran besar, sehingga tidak mengherankan jika kesan glamour, modis dan anggun seperti halnya yang dicitrakan Ginza sebagai kawasan perbelanjaan mewah di Jepangmenjadi bagian dari perencanaan dan perancangannya. Koban ini juga memberikan ruang interaksi dengan masyarakat melalui ruang terbuka berkanopi lengkap dengan fasilitas tempat duduknya.
Perancangan koban yang kaya akan bentuk dan gaya arsitektur sepertinya juga didasarkan pada pemahaman dan pengalaman yang telah dimulai sejak puluhan tahun yang lalu, seperti yang terlihat pada keberadaan dua koban yang menjadi bagian dari isi Museum Meiji Mura (di daerah Uchiyama, Inuyama-shi, Aichi) berikut ini.
Koban Shicnijo yang dipindahkan dari lokasi aslinya di depan Nishi-Honganji Temple, Kyoto pada tahun 1969dibangun pada tahun 1912 ini pernah menjadi bagian yang tidak terlupakan dari ingatan masyarakat kyoto zaman itu. Buku Museum Meiji Mura (1988) menggambarkan bagaimana polisi-polisi yang bertugas disana selalu senang untuk membantu menunjukkan arah pada ribuan pengunjung kuil dan menjaga anak-anak yang terpisah dari orang tuanya. Bangunan koban ini sendiri dibangun dengan meniru gaya arsitektur bangunan-bangunan batu bata yang popular pada akhir era Meiji.
Koban yang kedua dibangun pada tahun 1914 di plaza depan Stasiun Pusat Tokyo dan dipindahkan ke Museum Meiji Mura pada tahun 1972. Koban Stasiun Pusat Tokyo ini dahulunya memainkan peran yang sangat penting sejalan dengan sejarah penggunaan Stasiun Pusat Tokyo, dan seperti hal nya Koban Shicnijo, polisi di sini juga menjadi tempat yang tepat bagi pengunjung Tokyo untuk menanyakan arah-arah dari kota metropolis ini. Arsitekturnya didesain sebagai bangunan bata merah dengan rangka baja dan kombinasi batu putih.
Dari empat contoh koban di atas, kita bisa melihat bagaimana koban memahami dan menempatkan dirinya sebagai bagian dari masyarakat, sebagai bagian dari arsitektur kota, sebagai bagian dari zaman itu sendiri. Ia juga menunjukkan bahwa dengan peran gandanya sebagai pendukung tugas polisi dan sebagai karya arsitektur, koban mampu mempertahankan eksistensinya dalam lingkungan dan masyarakat sekitar, sesuatu yang patut dicoba oleh institusi kepolisian kita sebagai bagian dari pembangunan citra polisi yang mengayomi, melindungi, dan melayani setiap warga Negara Indonesia.
by harry kurniawan
Posted at 08:06 pm by harry98
Permalink
Friday, March 11, 2005
LIVING ON THE HYPERREALITY STREET SPACE
paper for "Cultural Living" International Seminar
Gadjah Mada University, February 19th, 2005
LIVING ON THE HYPERREALITY STREET SPACE
ADVERTISEMENTS EXPANSION ON JOGJAKARTAS STREETS
ABSTRACT
Street is one of element of the city that essential on creating linkage between one district with another. Eventhough, streets arent only used as path for communities mobility, but they also have both social and economic functions. Social functions give many opportunities for interactions between each community elements; and economic develop the street rapidly to the high valuable space through selling, trading activities and commercial information elements installed along the street.
Nearly, there are no streets of Jogjakarta free from commercial information elements expansion such as advertisements. Starting from passive ones like signage, billboard, and signboard till the interactive ones that invite street users respond are easily found. Advertisements become part of our life style or our way of life, intensely its can manipulate mass culture image. Advertisements thaw out the border between what is right and wrong in the standard streets should have. Advertisements thaw out the differentiation between the representation and the real one. Advertisements create hyperreality streets. Potential which have to be executed with wise design, therefore hyperreality doesnt have negative effect and impact on the street users.
This paper is a result of walkthrough observation that describes several forms of commercial elements expansion in Jogjakartas streets.
Keywords: street, hyperreality, advertisements
Posted at 07:02 pm by harry98
Permalink
Thursday, February 10, 2005
Kompas, 7 November 2004
Stasiun Kyoto : Simbol era baru stasiun modern
Kereta bagi masyarakat Jepang merupakan transportasi terpenting untuk berkegiatan karena pemanfaatan sebagai alat transportasi tidak hanya menjadi alternatif moda transportasi melainkan telah menjadi bagian utama dari mobilitas mereka yang sangat dapat diandalkan. Fungsi-fungsi kereta yang bervariasi mulai dari kereta bawah tanah, kereta ekspres, hingga kereta super cepat, atau sebagai penghubung antar area hingga antar kota menuntut adanya manajemen yang dapat berjalan sangat baik, dan salah satu bagian terpenting dari manajemen itu adalah stasiun.
Stasiun sebagai bagian dari satu kesatuan manajemen transportasi dikelola sedemikian rupa dengan harapan mampu memberikan jaminan kepuasan dan kenyamanan bagi masyarakat penggunanya. Salah satu bentuknya adalah dengan menghadirkan banyak stasiun di titik-titik penting dari aktifitas masyarakat. Titik penting yang dihubungkan dengan sistem kereta yang bervariasi di Jepang, difasilitasi oleh beberapa jenis stasiun, antara lain: satu stasiun-satu system yang menjadi pemberhentian bagi satu macam jenis kereta tertentu saja, serta ada juga yang dikenal dengan satu stasiun-multi sistem. Jenis stasiun ini sudah pasti melayani lebih dari dua system kereta yang ada. Biasanya stasiun-stasiun seperti ini menjadi stasiun utama di kota tersebut. Stasiun dengan multi system biasanya juga memiliki keunggulan tersendiri karena arsitektur bangunannya yang menarik, namun keunggulan lain terletak pada pengembangan terhadap fungsi-fungsi konvernsional stasiun. Pengembangan stasiun sebagai pusat informasi dan jasa wisata; pengembangan sebagai pusat perbelanjaan, pengembangan sebagai terminal semua moda transportasi dan lain nya sebagai fasilitas penunjang dan pelengkap semakin mempertegas fungsi stasiun sebagai titik awal dan akhir mobilitas serta sebagai ruang transisi aktivitas masyarakatnya. Tahun 1997 memberikan sebuah rekonstruksi dan redefinisi akan makna dan fungsi stasiun melalui berdirinya stasiun Kyoto.
Sebuah stasiun yang kontroversial
Proses pembangunan Stasiun Kyoto dimulai dengan diadakannya kompetisi internasional pada tahun 1990 yang diikuti oleh banyak arsitek ternama, seperti Bernard Tschumi, dan Hiroshi Hara. Para arsitek sangat menyadari bahwa kompetisi ini menuntut munculnya ide-ide brilian, seperti yang terungkap dari pertanyaan-pertanyaan yang dikeluarkan oleh Bernard Tschumi (1994) tentang seperti apa sebuah stasiun di mana pada saat yang sama juga berfungsi sebagai sebuah pusat kegiatan budaya, sebuah hotel, sebuah convention center dan sebuah pusat perbelanjaan? atau bentuk kecepatan, komunikasi dan modernitas seperti apa yang harus berinteraksi dengan peradaban Kyoto? atau kalimat yang menanyakan apa yang seharusnya dilakukan oleh permukiman tradisional Jepang yang kecil atau machiya terhadap bangunan megablock zaman ini?. Sebuah perubahan besar yang tentu saja memberikan perbedaan besar diungkapkan Bernard tschumi -dalam buku nya Event Cities (1994) -- mengenai keberadaan stasiun ini jika jadi direalisasikan.
Setelah melalui proses konstruksi selama 2 tahun, maka sejak tahun 1997 bangunan stasiun Kyoto yang dirancang oleh Hiroshi Hara arsitek Jepang pemenang kompetisimulai dioperasikan sesuai fungsi utamanya sebagai stasiun, dan segera menjadi bangunan kontroversial yang menuai banyak kritikan. Meskipun Bangunan Stasiun ini hanya menjadi bangunan stasiun terbesar ke dua setelah stasiun Nagoya, namun Stasiun Kyoto dengan dimensi panjang bangunan 470 meter, 27 meter lebar dan 60 meter tinggi tetap merupakan sebuah stasiun yang sangat besar massa bangunannya. Fakta lain yang menarik dari stasiun Kyoto yang didirikan tepat di depan menara Kyoto salah satu bagian penting dari kota ini adalah perbandingan antara fungsi stasiun dan fungsi lainnya, dimana dari luas total lantai bangunan 238.000 m2 ternyata fungsi stasiun hanya menempati sepuluh persen nya..
Salah satu kritikan yang muncul mempertanyakan sensitivitas bangunan terhadap kota, mengingat kota Kyoto ibukota jepang selama lebih dari 1000 tahun adalah kota yang masih memegang kuat tradisi lamnya, mulai dari tradisi masyarakatnya hingga struktur dan arsitektur kota nya. Selama ini pembangunan di dalam kota Kyoto masih sangat mempertahankan pola/grid kota yang telah ada sejak dulu, dan juga ketinggian bangunan yang masih membentuk garis langit kota yang lebih horizontal dibandingkan kota-kota besar Jepang lainnya seperti Tokyo, Osaka, Yokohama yang penuh dengan bangunan-bangunan puluhan lantai.
Sebuah transformasi makna
Stasiun Kyoto adalah bukti bahwa sesuatu yang secara fungsional sangat spesifik dapat memberikan makna yang sangat berbeda. Stasiun Kyoto ini seperti yang diungkapkan oleh Hara (1998) meberikan lebih dari sebuah stasiun. Melalui keyakinan bahwa kota adalah fenomena yang terus menerus berubah dan merupakan kumpulan elemen-elemen kota yang masing-masingnya memiliki waktu masing-masing maka Hara memaknai kontroversialitas Stasiun Kyoto ini sebagai bagian dari sejarah perkembangan kota Kyoto, dan bagi dunia luar stasiun ini menjadi media penyampai informasi dan budaya kota Kyoto.
Sebuah transformasi fungsi
Dalam bukunya event-cities (1994), proyek Stasiun Kyoto ini dikategorikan Bernard Tschumi sebagai generator kota yang menjadi pemicu berbagai jenis fungsi dan aktivitas, dimana penyelesaian bentuknya yang bebas merupakan hasil dari gesekan maupuan perpotongan program-program ruang di dalamnya. Metode penyelesaian ini nampaknya juga digunakan oleh Hiroshi Hara dalam merencanakan dan merancangan Stasiun Kyoto ini, dimana fungsi-fungsi yang terdapat dalam stasiun ini ditata dan dihubungkan dengan tidak terlalu terikat dengan sebuah tatanan yang baku. Cara ini cukup efektif menarik pengunjung untuk tidak hanya terfokus pada satu zona atau area saja, tetapi menjadi lebih aktif untuk menjelajahi area atau zona lain dari Stasiun ini.
Bangunan ini memfasilitasi berbagai fungsi antara lain area parkir, plaza-plaza, pusat budaya, sebuah galeri seni Museum [E Ki] KYOTO, convention center, restoran, Pusat Perbelanjaan JR Kyoto ISetan, bioskop, Hotel Granvia Kyoto, tempat pernikahan, kantor-kantor pemerintahan serta stasiun kereta, bahkan stasiun ini juga menjadi Kyoto City Air Terminal yang memberikan kemudahan bagi pengguna jasa pesawat terbang dari Kansai International Airport.
Peran stasiun ini sebagai generator kota terlihat melalui besarnya jumlah masyarakat dengan tujuan dan aktivitas yang berbeda-beda, datang dan memanfaatkan fasilitas-fasilita yang tersedia, sehingga tidak salah jika Hara (1998) menyebutkan bahwa membangun Stasiun Kyoto pada dasarnya adalah menciptakan sebuah kota, karena fungsi sebuah kota hampir semuanya dimiliki oleh stasiun ini, mulai dari fungsi sosial, fungsi ekonomi, dan fungsi budaya hingga fungsi legal.
Sebagai sebuah stasiun modern, Stasiun Kyoto dapat dijadikan acuan yang menarik bagi semua stasiun tidak terkecuali di Indonesia-- agar keberadaan mereka (stasiun) di masyarakat dapat jauh lebih bernilai.
(gambar 1) Bagian depan Stasiun Kyoto, dengan latar depan terminal bus kota Kyoto

(gambar 2) struktur Space frame dipilih Hiroshi Hara sebagai atap yang menutupi sebagian besar ruang terbuka stasiun serta untuk memberikan suasana alami langit kota ke dalam stasiun.
(gambar 3) East Square yang dilengkapi dengan kapel pernikahan

Posted at 02:27 pm by harry98
Permalink
|